PERIBAHASA
- Datang tampak muka, pergi tampak punggung.
Datang Dengan baik, pergi pun dengan baik pula.
- Pagar makan tanaman.
Orang yang dipercaya untuk menjaga sesuatu tetapi malah merusaknya.
- Sudah Jatuh Tertimpa tangga.
Mendapat kemalangan berturut-turut
- Tiada rotan akar pun berguna.
Kalau tidak ada yang baik, yang kurang baik pun jadi.
- Mati semut karena gula.
Manusia dapat dikuasai karena utang budi, bujuk rayu atau kata manis.
- Mahal tak dapat dibeli, murah tak dapat diminta.
Barang yang sukar sekali didapatkan.
- Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk.
Orang yang semakin pandai, semakin rendah hati.
- Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan nama.
Orang yang sudah meninggal akan dikenang karena jasanya.
- Buah manis biasanya berulat.
Perkataan yang lemah lembut biasanya mengandung tipu daya.
- Gali lubang, tutup lubang.
Tak ada habisnya membuat hutang, meminjam uang untuk membayar hutang.
- Kalau beli menang memakai.
Hendaklah membeli yang mahal tapi baik, awet.
- Lubuk akal tepian ilmu.
Orang pandai tempat bertanya segala sesuatu.
- Tanam cempedak buah nangka.
Mendapat keuntungan jauh lebih baik besar dari pada yang diharapkan.
- Takkan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah dia.
Perkara yang sudah pasti tak usah digopoh-gopohkan benar, hendaklah sabar.
- Tambah air, tambah sagu.
Tambah pekejaan, tambah pula penghasilannya.
- Buruk muka cermin dibelah.
Kesalahan sendiri orang lain dipersalahkan.
- Besar kapal, besar pula gelombangnya.
Banyak penghasilan banyak pula pengeluarannya.
- Besar pasak daripada tiang.
Lebih besar pengeluaran dari pada penghasilan.
- Belakang parang pun kalau di asah tajam juga.
Orang bodoh kalau mau belajar akan pandai juga.
- Air beriak tanda tak dalam.
Orang yang banyak bicara tapi bodoh.
- Anjing menggongong, kabilah tetap berlalu.
Suatu pekerjaan terus dikerjakan meskipun dijadikan omongan orang.
- Air tenang menghanyutkan.
MAJAS / GAYA BAHASA
Alegori : Perbandingan suatu keadaan / peristiwa dengan beberapa kiasan yang membentuk satu kesatuan
Alegori : Perbandingan suatu keadaan / peristiwa dengan beberapa kiasan yang membentuk satu kesatuan
Contoh : Wahai rumput kering ,akarmu jangan turut mengering, jangan mati ditanah terbaring, sabarlah sampai hujan turun membasahi bumi.
Anafora (paralelisme didepan) : Pengulangan kata-kata pada awal baris untuk menegaskan maksud.
Contoh : Kepada-Mu aku menyembah, kepada-Mu aku memohon.
Antiresis : Pemaduan kata-kata yang berlawanan arti.
Contoh : Suka duka hidup ini membuat kami makin menyatu.
Antiklimaks : Pengungkapan yang makin turun / melemah.
Contoh : Dalam pidato kampanyenya mula-mula ia berteriak- teiak lima menit kemudian suaranya parau dan akhirnya pingsan.
Eufimisme : Pengungkapan secara sopan untuk hal-hal yang tabu.
Contoh : Maaf! Saya kebelakang sebentar.
Epifora (paraleusme dibelakang) : Pengulangan kata-kata pada akhir baris untuk penegasan maksud.
Contoh : Aku sedang belajar ingat kamu, Aku sedang makan ingat kamu, Aku mau tidur ingat kamu.
Hiperbola : Pengungkapan yang berlebihan / membesar-besarkan.
Contoh : Dunia terasa runtuh saat aku menghadapi kenyataan seperti ini
Ironi : Sindiran dengan mengungkapkan kebalikan dari keadaan sebenarnya.
Contoh : Enak benar sayur ini, seperti tak bergaram.
Klimaks : Pengungkapan yang makin naik / menghabatk.
Contoh : Film itu menjadi idola anak-anak, remaja, bahkan orang tua.
Litotes : Pengungkapan yang berkebalikan dengan keadaan yang sebenarnya untuk merendahkan diri.
Contoh : Apa arti usahaku ini, karena baru cukup untuk makan keluarga, kata hartawan itu kepada tamunya.
Anafora (paralelisme didepan) : Pengulangan kata-kata pada awal baris untuk menegaskan maksud.
Contoh : Kepada-Mu aku menyembah, kepada-Mu aku memohon.
Antiresis : Pemaduan kata-kata yang berlawanan arti.
Contoh : Suka duka hidup ini membuat kami makin menyatu.
Antiklimaks : Pengungkapan yang makin turun / melemah.
Contoh : Dalam pidato kampanyenya mula-mula ia berteriak- teiak lima menit kemudian suaranya parau dan akhirnya pingsan.
Eufimisme : Pengungkapan secara sopan untuk hal-hal yang tabu.
Contoh : Maaf! Saya kebelakang sebentar.
Epifora (paraleusme dibelakang) : Pengulangan kata-kata pada akhir baris untuk penegasan maksud.
Contoh : Aku sedang belajar ingat kamu, Aku sedang makan ingat kamu, Aku mau tidur ingat kamu.
Hiperbola : Pengungkapan yang berlebihan / membesar-besarkan.
Contoh : Dunia terasa runtuh saat aku menghadapi kenyataan seperti ini
Ironi : Sindiran dengan mengungkapkan kebalikan dari keadaan sebenarnya.
Contoh : Enak benar sayur ini, seperti tak bergaram.
Klimaks : Pengungkapan yang makin naik / menghabatk.
Contoh : Film itu menjadi idola anak-anak, remaja, bahkan orang tua.
Litotes : Pengungkapan yang berkebalikan dengan keadaan yang sebenarnya untuk merendahkan diri.
Contoh : Apa arti usahaku ini, karena baru cukup untuk makan keluarga, kata hartawan itu kepada tamunya.
11. Metafora : Perbandingan langsung (perbandingan secara implicit).
Contoh : Kaulah kandil kemerlap, pelita jendela dimalam genap.
12. Metonimia : Penyebutan merk untuk mengacu benda seutuhnya.
Contoh : Beliau ke yogya naik kijang.
13. Poradoks : Pengungkapan yang seolah-olah bertentangan.
Contoh : Pembantu itu mati kelaparan ditengah kekayaan majikan yang berlimpah ruah.
14. Personifikasi : Penyifatan benda-benda mati dengan sifat-sifat atau perilaku manusia.
Contoh : Hanya surat-surat inilah yang menghubungkan kami.
15. Preterito : Pengungkapan secara tersembunyi karena dianggap sudah sama-sam tahu.
Contoh : Sang juara ada dikelas ini, dan anda tentu tahu siapa dia.
16. Repetisi : Pengulangan kata-kata dalam kalimat untuk menegaskan maksud.
Contoh : Bahagia tidak ditentukan oleh harta, bahagia tidak ditentukan oleh kedudukan, tapi bahagia ditentukan oleh sikap batin manusia itu sendiri.
17. Simile : Perbandingan secara ekspusit dengan menggunakan kata-kata perbandingan , Misalnya : laksana, seperti bagaikan bak.
Contoh : Suaranya merdu bagaikan buluh perindu.
18. Sinekdoke (pars prototo) : Penyebutan sebagai untuk seluruh.
Contoh : Sampai sekarang tidak tampak batang hidungnya.
19. Sinekdok totem proparte : Penyebutan seluruh untuk sebagian.
Contoh : Indonesia menang dalam perebutan piala Thomas
20. Tautologi : Penegasan maksud kata-kata yang sama / senada artinya.
Contoh : Hatiku susah, gelisah, resah bila kau pergi.
UNGKAPAN!!!
a. Besar mulut : Pembual, Pembohong.
b. Bermuka musam : Cemberut.
c. Darah rakyat : Keturunan rakyat biasa.
d. Darah rendah : Kebanyakan keturunan.
e. Darah mendidih : Marah sekali.
f. Kecil hati : Penakut.
g. Lurus hati : Jujur.
h. Naik darah / darah pitam : Marah.
i. Mengambil hati : Merayu.
j. Memikat hati : Menarik perhatian.
k. Menusuk hati : Menyinggung perasaan.
l. Mandi darah : Berlumuran darah.
m. Mata-mata : Kaki tangan musuh.
n. Makan tangan : Untung, memperoleh laba.
o. Member hati : Menyenangkan orang lain.
p. Tutup mulut : Tak mau bicara.
q. Tebal muka : Tak punya malu.
r. Panas hati : Marah.
s. Ringan mulut : Usil.
t. Ringan tangan : Suka bekerja.
u. Raut muka : Wajah, Rupa.

0 comments :