Ceritanya
Subhanallah banget. Seperti beberapa novel garapan sebelumnya oleh penulis yang
sama, Habiburahman El Shirazy berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca melalui
novel yang terbit dalam dua jilid ini. Meskipun di jilid pertama ini ceritanya
agak loncat-loncat, namun tidak mengurangi keruntutan jalan cerita yang
dibangun oleh penulis. Karya dwilogi ini masih bercerita dengan latar belakang
Mesir. Pemeran utama dimainkan oleh Abdullah Khairul Azzam, seorang mahasiswa
Indonesia yang datang jauh-jauh dari pelosok desa di pulau jawa untuk
melanjutkan studinya di Mesir.
Azzam,
demikian nama panggilan pemuda itu, adalah seorang pekerja keras. Ia memiliki
beberapa adik yang harus dibiayainya, hingga dengan kekhlasan hati ia harus
berkorban dengan menjadi penjual bakso dan pembuat tempe. Ceritanya penuh
dengan romantika yang sarat dengan hikmah. Isinya bagus serta dapat mengajari
kita soal hidup, cinta dan bagaimana mengatur skala prioritas dalam mengambil
tindakan. Tersebutlah bahwa Azzam adalah mahasiswa Indonesia di Al Azhar, yang
belajar disana karena berhasil memperebutkan beasiswa dari Departemen Agama. Ia
adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir
dari kalangan keluarga pas-pasan. Kecerdaan Azzam kian terbukti tatkala di
tahun pertama menimba ilmu di Al Azhar ia memperoleh predikat jayyid jidda
(istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari Majlis A'la.
Namun
ditahun kedua, ayahnya yang tinggal di Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan.
Sepeninnggal ayahnya, ibunya sering sakit-sakitan. Padahal di Indonesia, ketiga
adik perempuannya belum bisa diharapkan membantu ibunya karena baru beranjak
dewasa. Yang seharusnya membantu ibu dan adik-adik nya di Indonesia adalah
Azzam. Sebab dia adalah sulung di keluarganya. Azzam menyadari itu. Maka sejak
saat itulah ia mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di
Cairo, bekerja sambil belajar. Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi
keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Karena lebih fokus
ke bisnis, hasilnya prestasinya semakin lama semakin menurun, beberapa kali
tidak naik tingkat, padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir tapi belum lulus
S1. Meskipun pada akhirnya lulus juga dengan predikat yang tidak mengecewakan,
jayyid. Namun disisi lain di belahan Indonesia, keluarganya suskes berkat
motivasi dan biaya hidup darinya. Adik-adik nya semua "menjadi
orang".

0 comments :