Random Post

Thursday, March 29, 2012

Cerita Fransiska

Achmad Luthfi Khakim     8:26 AM    

Fransiska T-Wael itulah nama lengkap dari seorang anak berusia 9 tahun yang akrab dipanggil siska. Dia tinggal di dusun Metar Pulau Buru wilayah Maluku bersama bapak, ibu, dan kedua adiknya. Pagi itu sebelum berangkat sekolah mama tina (ibu siska) memasak untuknya. Siska dan teman-teman lainnya menikmati the hangat dan pisang rebus yang sudah dihidangkan.
Dusun Metar terletak 52 km dari kota Namlea , sebagai kota Kabupaten Pulau Buru memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Pulau Buru memiliki 10 kecamatan yang luas terbentang dari utara sampai selatan. 10 kecamatan tersebut terdiri dari : Pulau pembuangan kapal atau buru sungai, daratan Waipo, tempat tinggal suku buru asli, Desa transmigrasi 1969-1970 pulau ini juga kaya akan kayu putihnya. Walaupun Dusunnya terpencil, siska mempunyai cita-cita yang patut diteladani bagi anak-anak asli buru lainnya yaitu sebagai seorang Bidan untuk memajukan daerahnya dan masyarakat mereka sendiri.Maka dari itulah siska sangat rajin dan semangat untuk semangat.
Kesulitan dalam mendapatkan pendidikan tidak hanya dialami oleh siska dan teman-teman lainnya,Paskali Hukunala merupakan salah satu seorang anak yang memiliki nasib yang sama.Dia duduk dikelas 3 SD terpaksa haru berpisah dengan kedua orang tuanya yang tinggal di Wambasalahin dan sekarang dia tinggal diMetar jauh dari sentuhan modernitas.Beruntung ada orang yang mau menampungnya,untuk menuju sekolah ia harus berjalan kaki naik-turun gunung sejauh 5 km.
Kesulitan dalam menuju sekolahpun tidak hanya dialami oleh para siswa, gurupun mengalami hal yang sama.Ada yang menggunakan sepeda ada yang menggunakan jasa ojek,bahkan ada pula Guru yang tinggal dipesisir.Konflik kekerasan yang berawal pada tahun 1999 di Ambon merupakan salah satu penyebab dari sulitnya mendapatkan suatu pendidikan. Beberapa sekolah dikabupaten buru mengalami kerusakan. Pemerintah berusaha mendirikan kembali sekolah. Meskipun ada sekolah yang berhasil didirikan namun, belum semua perlengkapan terpenuhi seperti meja dan kursi.
Selain kondisi geografis sebenarnya masih banyak penghambatan pendidikan di Pulau ini termasuk salah satunya adat istiadat. Di dalam Pulau ini ada tradisi anak koin yaitu anak yang tidak dapat atau tidak boleh mendapatkan pendidikan. Bahkan ada beberapa Guru yang menganut tradisi piara yaitu mengasuh anak perempuan hingga dewasa dengan tujuan untuk dinikahi dengan anak laki-laki. Anak laki-laki yang dikawinkan rata-rata 9 sampai 15 tahun. Masalah pendidikan menjadi masalah warga,  orang tua kurang mendorong anak untuk menata masa depan dan menggapai cita-citanya. Orang tua berharap dengan adanya pendidikan anak-anak bisa bersekolah dan memperoleh pendidikan serta mencapai cita-citanya, anak-anak seharusnya berhak mendapat jaminan pendidikan untuk mencapai cita-citanya.

0 comments :

About us

Common

FAQ's

FAQ's

© 2011-2014 Luthfi LC-Computer. Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.